Jumat, 12 Juli 2013

Hello, I am Your Secret Admirer!

Pasti pernah denger istilah "Secret Admirer" kan? Iya, pengagum rahasia. Seseorang yang hanya sanggup mengagumi secara rahasia, tanpa ingin orang yang dia kagumi tahu siapa dia. Seseorang yang dapat merasa puas saat memandang orang yang dia kagumi secara diam-diam, mencuri pandang dari sudut matanya. Seseorang yang betah berlama-lama memperhatikan foto orang tersebut tiap detailnya.

Seseorang yang cuma bisa pasang muka manyun kalau liat orang tersebut lagi deket sama seseorang. Seseorang yang cuma bisa pasang muka sebel kalau ada orang lain yang ternyata mengagumi orang yang sama (deskripsi ini ngga berlaku buat yang jadi secret admirer seleb!)

Ada yang betah bertahun-tahun menyimpan rasa. Dari mulai masih bibit, sampai udah menjalar kemana-mana. Bodoh? Mungkin. Pengecut? Mungkin. Tapi mereka punya alasan mengapa mereka lebih memilih seperti itu. Mereka terlalu takut menghadapi kenyataan yang ada nanti. Sehingga mereka pun terbiasa untuk tidak memiliki, hanya mengagumi dan berimajinasi.

Para Secret Admirer terbiasa untuk puas tidak memiliki orang yang mereka kagumi. Cukup kagum, tidak perlu lebih. Namun ada pula yang akhirnya menyatakan perasaan. Mana yang lebih sakit, bertepuk sebelah tangan tapi mereka tahu bagaimana perasaan kita. Atau bertepuk sebelah tangan tanpa mereka pernah tahu sedikit pun tentang perasan kita?

Menyakitkan mencintai seseorang yang ternyata tidak mencintai kita. Tapi jauh menyakitkan mencintai seseorang tanpa kita pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi kasus Secret Admirer ini berakhir beragam. Ada yang akhirnya berani menyatakan dan ternyata ditanggapi, ada yang akhirnya berani tapi ternyata tidak berakhir sesuai keinginan, ada yang akhirnya menguap dan kalah karena perasaannya sendiri, dan yang terakhir, masih selalu menunggu dalam diam.

Gue pernah ada di posisi ini dan berakhir pada opsi ketiga, menguap dan kalah. Tapi betapa jauh membahagiakan jika kita bisa berkata, "Hello, I am you secret admirer!" Tanpa kita perlu memikirkan bagaimana tanggapan dia; karena yang terpenting kita sudah mengatakan apa yang kita rasakan, hal ini jauh lebih melegakan, bukan?

(Cint)aku Pergi

Aku mengagumi seseorang. Seseorang yang bahkan tak tahu kalau aku ada, pun rasaku.
Seseorang yang lewat pesan singkatnya menjelmakan kebahagiaan kecil bagiku.
Seseorang yang bahkan aku tak tahu kapan dapat kurengkuh.
Melihatnya secara diam-diam sudah memberiku letupan kecil.
Dan akhirnya aku terbiasa seperti itu.
Biasa terdiam, menunduk, dan mencuri pandang dirinya dari sudut mataku.

"Aku lelah hanya melihatnya dari sudut, aku ingin menatapnya jelas depan mataku," ujar mataku.

"Aku tak sanggup lagi menahan letupan-letupan kecil. Apalagi saat merasa panas ketika mata melihatnya bersenda gurau bersama wanita yang lebih segala dariku," ujar hati tak mau kalah.

"Aku pun demikian. Tanganku sudah lelah menahan rasa ingin menggapainya," pun tangan ikut kritis.

Ah. Bodoh pun dungu diriku.
Apalah arti rasa dan asa ini jika tak sanggup kuungkap.
Mencari bayangnya saat suram pun aku tak mampu.
Siapa aku? Bukan siapa-siapa.
Hanya dapat menunggu kabarnya dari angin malam,
dibawah bulan yang mulai menunduk meredup lelah.

Kamu masih milik terang saat aku dalam gelap mengagumimu.
Di batas gelap kau sering bercerita betapa indahnya terang.
Dan aku hanya bisa tersenyum kecut,
aku hanya gelap, bahkan saat bulan memudar.

Hingga akhirnya aku makin terbiasa.
Terbiasa untuk memandangi tanpa memiliki.
Jangan, jangan begini.
Jangan buat aku terbiasa.
Karena saat aku terlalu terbiasa,
rasaku pun menjadi biasa.
Begitu juga kamu, menjadi begitu biasa.
Hingga (cint)aku pergi..


Dedicated for both of you,
RSSP.DNS