Jumat, 12 Juli 2013

(Cint)aku Pergi

Aku mengagumi seseorang. Seseorang yang bahkan tak tahu kalau aku ada, pun rasaku.
Seseorang yang lewat pesan singkatnya menjelmakan kebahagiaan kecil bagiku.
Seseorang yang bahkan aku tak tahu kapan dapat kurengkuh.
Melihatnya secara diam-diam sudah memberiku letupan kecil.
Dan akhirnya aku terbiasa seperti itu.
Biasa terdiam, menunduk, dan mencuri pandang dirinya dari sudut mataku.

"Aku lelah hanya melihatnya dari sudut, aku ingin menatapnya jelas depan mataku," ujar mataku.

"Aku tak sanggup lagi menahan letupan-letupan kecil. Apalagi saat merasa panas ketika mata melihatnya bersenda gurau bersama wanita yang lebih segala dariku," ujar hati tak mau kalah.

"Aku pun demikian. Tanganku sudah lelah menahan rasa ingin menggapainya," pun tangan ikut kritis.

Ah. Bodoh pun dungu diriku.
Apalah arti rasa dan asa ini jika tak sanggup kuungkap.
Mencari bayangnya saat suram pun aku tak mampu.
Siapa aku? Bukan siapa-siapa.
Hanya dapat menunggu kabarnya dari angin malam,
dibawah bulan yang mulai menunduk meredup lelah.

Kamu masih milik terang saat aku dalam gelap mengagumimu.
Di batas gelap kau sering bercerita betapa indahnya terang.
Dan aku hanya bisa tersenyum kecut,
aku hanya gelap, bahkan saat bulan memudar.

Hingga akhirnya aku makin terbiasa.
Terbiasa untuk memandangi tanpa memiliki.
Jangan, jangan begini.
Jangan buat aku terbiasa.
Karena saat aku terlalu terbiasa,
rasaku pun menjadi biasa.
Begitu juga kamu, menjadi begitu biasa.
Hingga (cint)aku pergi..


Dedicated for both of you,
RSSP.DNS 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar