Sabtu, 25 Mei 2013

Why ... ?

"Why am I different from others?"

......

Gue tergolong orang dengan daya khayal yang amburadul, menit ini gue bisa berkhayal tentang A, selanjutnya lompat ke B, begitu juga dengan menit-menit selanjutnya, bahkan terkadang bisa kembali lagi berkhayal seperti khayalan semula. Umm, mungkin bukan berkhayal ya, cuma memikirkan sesuatu, baik yang pernah dialami, maupun yang sama sekali belum pernah gue alami.

Sore ini, entah kenapa gue teringat dengan salah seorang teman sewaktu di Jogja. Dia memiliki keterbatasan dalam pendengaran dan berbicara. Kak Arif, begitu gue biasa manggil dia. Perkenalan gue dengan Kak Arif berawal karena dia adalah pacar temen kost gue.

Dengan keterbatasannya, menurut gue Kak Arif sangat mandiri. Dia kemana-mana naik motor lho, dan menurut gue itu wow banget. Secara ya gimana jalanan Jogja yang banyak banget motor mobil lalu lalang. Tapi dia bisa. Dia juga ikut sebuah komunitas, gue lupa namanya apa, yang pasti komunitas ini pernah diundang ke Hitam Putih Trans7 dan Kak Arif ada disitu :')

Gue sempat berpikir, kenapa harus ada orang yang berbeda dari kita? Kenapa ngga disamain aja sih sama Tuhan? Kan Tuhan Maha Adil. Lagian kalo semua sama pasti lebih enak, ngga perlu ngerasa minder, ngga perlu ada yang sombong sok-sok gitu. 

Gue terus berpikir tentang hal ini, muter-muter aja di bagian itu. Hingga akhirnya pada satu titik gue sadar akan satu hal, "Kenapa juga harus sama seperti yang lain? Dengan adanya perbedaan manusia jadi tahu bagaimana cara mensyukuri segala hal yang ada dan bisa menjadi dirinya sendiri."

Keterbatasan yang ada bukan penghalang. Kita memang berbeda, tapi apa kita harus menjadi sama seperti yang lain? Tidak. Karena tiap individu itu istimewa dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Jadi menurut gue, kalau kelak kita nemuin seseorang yang bertanya seperti apa yang gue tulis pertama di post ini, yang harus kita jawab adalah,

"Why do you have to be like others?"


Rabu, 22 Mei 2013

Bukan EGEPE, Tapi AGAPE!

Sekarang ini, banyak orang yang suka bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain. Berbicara yang menyakitkan, atau berperilaku yang membuat orang tersinggung. Tapi pas kita tegur, komentarnya cuma, "Emang gue pikirin?" atau yang suka sok-sok Inggris, "So what? I don't care." Walaupun memang tidak semua orang memberikan respon seperti ini.

Pernah denger ungkapan "Lidah tak bertulang"? Ya, lidah kita emang ngga bertulang, tapi lidah kita bisa lebih tajam dari pisau yang rajin banget diasah. Omongan kita bisa menyakiti orang lain, entah kita sadar atau tidak. Omongan yang nyinyir dan sebagainya yang mungkin sering kita ungkapkan.

Terlebih kalau saat kita tidak menyukai seseorang, tidak hanya omongan kita, tapi juga perilaku kita pasti menyakiti orang tersebut tanpa sadar. Padahal terkadang alasan kita membenci seseorang itu sangat sepele. Karena sikap atau hal-hal yang sebenarnya tidak merugikan hidup kita. Salah satu permasalahan manusia sekarang adalah terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain tanpa bercermin kepada diri sendiri.

Mengapa harus membenci seseorang tanpa alasan jika orang itu bahkan tidak pernah sedikit pun melukai hidup kita? Mengapa kita harus membenci orang lain dan mengorbankan hati dan tenaga kita? Kenapa kita tidak mengasihi saja semua orang tanpa perlu kita membencinya dan menyakitinya?

Sampai kapan mau mengucap, "Egepe.", "Emang gue pikirin.", "I don't care."? Sampai kapan?

Yuk, kita sama-sama belajar untuk berhenti EGEPE dan menggantinya dengan AGAPE.
AGAPE = KASIH. 

Tuhan sudah begitu baik pada kita, Dia mengasihi kita tanpa syarat. Tanpa melihat latar belakang kita. Dan haruskah kita membenci sesama saat Tuhan sudah begitu baik mengajarkan kasihNya yang tanpa syarat? Yang senantiasa memaafkan?

Kita sama-sama belajar untuk tidak menghakimi seseorang tanpa alasan, karena kita tidak berhak menghakimi, tetapi Dia yang memiliki hak untuk melakukan penghakiman pada kita. Dan kini saatnya kita untuk sama-sama belajar untuk memulai agape (kasih) kepada setiap orang di sekitar kita, karena kasih itu membahagiakan :)

--Thank you for Your forgiveness, Lord




Rabu, 15 Mei 2013

Mengeluh?

MENGELUH.

Siapa yang ngga tau kata ini? Atau bahkan ngga tau artinya? Gue coba search di Google dengan keyword "definisi mengeluh" dan gue mendapatkan ini, "menyatakan susah (krn penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dsb): meskipun tugas itu sangat berat." Yang bisa gue simpulkan sendiri adalah suatu keadaan dimana kita menyatakan kesusahan yang kita alami karena penderitaan, sakit, dsb.


Siapa yang ngga pernah mengeluh? Coba sini ajak ketemu gue kalau ada orang yang ngga pernah mengeluh sedikitpun selama hidup, mau gue traktir teh botol terus gue ajak ngobrol panjang lebar, siapa tau dia bisa ajarin gue caranya buat ngga mengeluh. Two thumbs up banget buat orang itu!


Oke, gue ngga memungkiri kalau gue juga pernah mengeluh. Mungkin lebih tepatnya bukan "pernah", mungkin "sering", atau "jarang"? Entahlah. Intinya gue punya pengalaman dimana akhirnya gue mengeluarkan kata-kata keluhan.

Ngga asing deh sama omongan, "Aduh, berat banget deh." atau "Ah gila, kerjaan numpuk banget ngga ada habisnya." dan berbagai macam kalimat yang intinya menyampaikan keluhan. Bahkan narik napas dan menghembuskan napas panjang itu salah satu bentuk mengeluh yang terselubung lho. Sadar ngga?

Mengeluh emang wajar, namanya juga manusia biasa. Bisa ngerasain capek, terbebani, dan semacamnya. Bahkan terkadang ada juga yang habis mengeluh malah tambah semangat. Salah seorang temen ada yang sering banget ngomong gini, "Capek banget kerjaan gini mulu ngga ada habisnya." Tapi ngga sampai 5 menit kemudian dia bilang, "Harus cepet dikerjain deh ini, biar cepet beres." Dan dia langsung semangat banget. Buat gue, itu salah satu bukti bahwa terkadang mengeluh itu justru jadi energi tambahan buat semangat kita. Asal sesuai porsinya.

Oke, bahas sesuai porsi, pernah ngga denger orang yang hampir tiap saat kayaknya mengeluh terus? Tiap update PM isinya mengeluh, update status FB atau twitter juga sama. Pernah? Atau bahkan denger secara langsung? Lo risih ngga? Kalau gue, gue jujur aja ngerasa risih.

Disini gue bukan mau judge, cuma mau menyampaikan sudut pandang gue aja. Mengeluh terus ngga bikin masalah atau kerjaan lo beres. Kalau masih sesuai porsi sih ngga masalah. Tapi kalau udah lewat batas porsi seharusnya? Duh.

Hidup lebih bermakna kalau kita bersyukur. Mengeluh sesekali wajarlah, namanya juga manusia biasa bukan Tuhan. Tapi kalau bisa, jangan setiap detail hidup dipakai buat mengeluh. Sesekali mengucap, "Puji Tuhan." kalau lo Nasrani atau "Alhamdulillah." kalau lo Muslim. Itu bakal lebih bikin hati lo lebih lega, Sob.

Kalau setiap detail di hidup cuma kita pakai buat mengeluh, capek hati sama mulut kita. Kasian. Sayang kan sama mulut sendiri? Yuk coba dari sekarang, gue juga masih dalam tahap ini kok, berusaha untuk mensyukuri tiap aspek sekalipun gue emang mengeluhkan hal itu.

Percaya deh, dengan bersyukur hidup kita bisa lebih bermakna, hati juga bisa lebih lega. Sekalian menyayangi mulut sama hati. Kasian kalau dipakai mengeluh aja.

Sekali lagi, maaf-maaf kata nih ya kalau post gue terkesan sok tau, cuma mau bercerita dari sudut pandang gue. Jangan laporin blog gue ke MUI dan dibilang sesat kayak Eyang Subur. Salam Peace, Love, and Gaul! \m/

Senin, 13 Mei 2013

Romantis dengan Cara Mereka Sendiri

Abis baca blog Teh Falla Adinda, ada kalimat yang gue suka, "Laki-laki memiliki bahasa sendiri-sendiri dalam mengungkapkan cinta." Kalimat yang simpel, tapi ngena. Gue pribadi udah pernah mengalami beberapa masa dekat dengan beberapa laki-laki. Dan yang bisa gue simpulkan adalah, masing-masing lelaki punya cara dan bahasanya sendiri dalam mengungkapkan isi hati mereka.

Contohnya, dari cara mereka nembak pertama kali, ada yang bikinin puisi, ada yang lewat telpon, dan ada juga yang cuma bilang, "Kita udah sama-sama dewasa, ngga perlu tembak-tembakan atau tanggal jadian. Aku sayang kamu, gimana?" Dan akhirnya jadian begitu saja :|

Ada yang inget banget buat ngucapin happy-month-versary tiap bulan (yang bahkan gue pun sering banget lupa dalam hal ini), ada yang tiap ulang tahun ngasih buket bunga atau nyiapin dinner, ada juga yang cuek ngga bahas ulang tahun kita tapi tiba-tiba ngajakin nonton di hari dia biasa kerja dan ternyata dia udah bela-belain bolos kerja buat kita, ADA.

Pernah denger ngga cewek ngeluh gini, "Ih cowok lo romantis deh ngasih coklat sama bunga gitu, cowok gue mana pernah?" Pasti ada deh, yakin. Menurut gue pribadi, romantis itu ngga harus lewat barang, romantis itu sebenernya sederhana kok, sederhana banget.

Ucapan "Selamat pagi" dari pacar itu juga salah satu bentuk romantis. Kenapa? Karena berarti dia ingat buat menyapa kita di awal harinya. Pacar ngga pernah ngucapin selamat pagi duluan? Tapi pacar diem aja nanggepin mood lo pas PMS? Itu bukan tanda dia ngga peduli, tapi dia paham kondisi lo, terkadang buat cowok aksi diam tuh jadi solusi. Because what? Mereka ngga mau menambah keemosian lo saat itu. Kurang romantis? Dasar perempuan.

Oke, gue termasuk dalam spesies ini, "Perempuan." Yang mungkin udah kodratnya emang selalu minta dimengerti. Tapi jujur, gue sendiri bukan pribadi yang romantis. Maka dari itu gue coba memahami romantis dari sisi yang berbeda-beda. 

Romantis kan ngga ada aturan-aturan tertulis, semua tentang bagaimana cara untuk mengungkapkan isi hati ke orang yang kita sayang. "Cara" yang berarti bisa ada banyak cara, bermacam-macam dan ngga cuma satu. Bahkan hal sepele pun bisa jadi hal yang romantis kalo kita mau memahami :)

Contohnya si Birong (Re: PACAR GUE!) selalu ngasih tau tiap dia baru nyampe kantor. Kenapa? Selain buat ngasih tau kalo dia "Ada", juga ngasih tau kalo dia baik-baik aja dan yang dia inget pertama adalah gue. Gue kegeeran? Iya kali, tapi bodo amat, menurut gue itu romantis. Sederhana kan?

Atau waktu gue ada acara alumni SMA ke daerah Cilember. Siapa sangka dia yang terlihat cuek itu nyiapin segala detail biar gue ngga kedinginan? Dari sweater, syal, sarung tangan, dan masker. Humm, itu romantis menurut gue. Untuk ukuran lelaki kayak pacar gue yang ajaib ini terutama.

Ya, masing-masing lelaki punya cara mereka sendiri untuk mengungkapkan isi hatinya, dan perempuan juga punya standar masing-masing buat menentukan hal-hal yang mereka anggap romantis. Ada yang menganggap romantis itu adalah bunga, cokelat, atau dinner romantis dengan lilin remang-remang unyu. Namun ada juga yang menganggap romantis saat sikap-sikap yang "tidak biasa", contohnya gue. Tapi itulah kebahagiaan tiap individu. Bahagia itu sederhana, romantis pun sederhana, sederhana dengan caranya masing-masing.



--Thank you, Birong, untuk telpon dan bbm di sela kerja selama ini.
Well, itu romantis yang sederhana menurutku :)